Minggu, 25 Juni 2017
Senin, 23 Januari 2017
Annyeonghaseyo, Gamsahamnida!!
Udah
lama uga aku gak cerita tentang kegiatan aku di blog ini.
Sabtu,
21 Januari 2016. Kira-kira jam 10 pagi, aku dan teman baruku di BATAN, di
antaranya Sampe, Mega, Indah, Nute, dan Fajo tiba di TMII. Taulah kan kelen apa
kepanjangaannya TMII??
| Berpoto di depan pintu masuk. Sebelum bayar tiket masuk. Pengennya nampak TMII nya eh malah fokus ke muka kami. |
Kami masuk
dari pintu utama TMII. Kami harus bayar tiket masuk Rp 10.000,-/kepala. Saat di
dalam kami lihat suasananya cukup sepi. Kami lihat ada penyewaan motor. Harus
kelen tau aku gak bisa mengendarai motor . L
Bahkan sepeda sekalipun. Tapi kalau kami jalan kaki bisa letih banget. Padahal
ada 34 anjungan yang mau di kelilingi. Jadi, kami putuskan untuk makan dulu.
Secara kami berangkat jam 8 pagi, yang dimakan hanya indomie dan aku gak ada
makan.
| Berpoto setelah aku, Sampe, dan Mega gesek ATM dan sebelum kami makan di CFC. |
Kami
jalan menelusuri tempat makan yang murah, meriah, muntah. Tapi gak ada. Yang
ada makanan dengan harga terjangkau ala Paman Sam, CFC. (gak masalah kan sebut
brand??). Di dalam kami pesan paketan. Namanya juga mahasiswa ngekos. Tempat
duduk aku menghadap ke arah sekumpulan pemuda/i Asia Timur. Dari penampilan
wajah yang cantik dan tampan, pakaian yang modis, rambut berwarna coklat pirang
dan hitam, serta make up yang standar, aku merasa mereka adalah orang Korea.
| Perhatikan ujung kiri atas foto, itu adalah pemudi Korea. Pemudanya lagi mesani makanan. |
Aku
langsung bilang ke teman-teman yang lain untuk memperhatikan mereka sekilas.
Pendapat kami sama.
Sampe:
“Nyanyilah kau, Bang di depan mereka.”
Aku :
“Mmmm, o iya aku nyanyi ini …. wi param, te tet teret teret teretet, tet teret
teret teretet, tet teret teret teretet, wi param param param”
Nute :
“Itu kan BlackPink”
Aku:
“Iya. Itu kan lagi booming di sana. Atau gak ini … weonhi manhi manhi manhi,
manhi manhi…”
Mereka
pun tertawa. (Itu adalah lagu BTS-Blood Sweat and Tears)
Nute
berdiri membawa tempat sambal kami buat diisi ulang. Tempat pengisiannya ada di
dekat sekelompok pemuda/i Korea itu. Selesai pengisian, aku bertanya apa mereka
bebrbicara dalam bahasa Korea. Dia pun menjawan iya.
Kami
pun sudah benar-benar selesai makan. Kami bergegas melanjutkan perjalanan kami.
Mereka berjalan keluar dari pintu depan. Aku menahan mereka dan mengubah haluan
melewati pintu belakang yang secara otomatis kami melewati pemuda/i itu.
(Sebenarnya
aku mau minta foto banget banget tapi masa pas mereka baru selesai makan. Gak
sopan rasaku ah)
Oke.
Waktu menumjukkan pukul berapa aku pun gak tau pastinya. Kami menyewa 2 sepeda
gandeng. Harga sewa Rp 35.000,-/sepeda selama 1 jam gratis 1 jam. Lumayanlah.
Tapi balik cerita sebelumnya, aku kan gak bisa bawa --“. Alhasil, aku di tengah
Mega dan Fajo. Mega dan Fajo bertukaran posisi sebagai kapten karna aku berat
-____-.
| Dari depan ke belakang: Sampe, Nute dan Indah |
| Dari belakang ke depan: Mega, Aku dan Fajo |
Awalnya
aku malu kalau dilihati orang-orang tapi lama-lama jadi malu-maluin karna
sepanjang jalan kenangan aku tertawa terus wkwkwk. Udah gak jelas kayak orang
gila. Ini akan menjadi hal yang tak terlupakan. Kami kelilingi dan berhenti di
berbagai anjungan yang ada seperti, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Papua,
Sulawesi Selatan, dan tempat lainnya yang bagus menurut kami.
| KALIMANTAN BARAT |
| KALIMANTAN BARAT |
| KALIMANTAN BARAT |
| SUMATERA BARAT |
| SUMATERA BARAT |
Yang
spesial adalah Sulawesi Selatan. Selain ada rumah adat Tongkonan punyanya suku
Toraja, kami menemukan hal yang sangat-sangat menarik dan membuatku bergairah.
Kami bertemu sekelompok pemuda/i Korea itu lagi. Ini yang namanya jodoh pasti
bertemu. Terima kasih, Afgan.
| SULAWESI SELATAN |
| SULAWESI SELATAN |
Nute:
“Cepat, Bang Jo!!”
Aku
langsung berjalan ke arah kedua kakak Korea itu. O iya mereka ada 5 wanita dan
3 pria.
Aku:
“Excuse me, can we take a photo with all of you?”
Kedua
kakak itu tampak bingung diawal. Mereka bilang ooh. Lalu salah satu dari mereka
mengajak kawannya yang lain untuk ikut berpoto. Aku jadi tukang potonya
(padahal aku pengen ikut dipoto uga.)
Aku :
“Once again, han na tul set!” (tangan gemetaran)
Salah
satu pemuda Korea memperbaiki pengucapan aku seharusnya aku bilangnya " hana dul ses"
Nute :
“Bang Jo buat boomerang bang”
Aku:
“Iya. (mengarah ke pemudi Korea) Do you know Boomerang?”
Salah
satu menjawab dengan pertanyaan, “boomerang?”
Aku:
“Boomerang for Instagram”
Ada
yang paham, “Aaaaa,…boomerang”
Akhirnya
mereka tau juga maksud kami. Semua ambil
posisinya kembali dan bersiap melakukan gerakan unik mereka. Aku pun berkata,
“….” Dan aku mengucapkannya benar kali ini. (tapi tangan tetap masih gemetaran)
Pemuda/i
Korea begitu senang melihat hasil boomerangnya. Mereka berbicara dalam
bahasanya dan aku hanya bisa tersenyum dengan kawan aku. Kami gak ngerti hiks…
Setelai
selesai berpoto, aku ajak kenalan dong (walau sekujur tubuh keringat dingin ,
pala puyeng). Dalam bahasa Inggris -___-.
Aku
bertanya what’s your name sambil memberikan tangan. Malah canggung. Karna aku
baru ingat di Korea pake cara membungkukkan badan. Ya, tetap salaman sih kami.
Ada 4 orang kusalami, Won Bin, Jiseoni, 2 lagi aku lupa namanya. Abisnya susah.
Aku:
“Why you choose Indonesia”
Salah
satu pemudi Korea bilang “passé”. Ngomong apa kak? Dikiranya aku ngerti kali
ya.
Yang
lain membantuku, dia bilang “volunteer”.
Aku:
“Aaaa, volunteer for what?”
Dan
mereka menjawabku dalam bahasa Korea -________- mungkin mereka bingung mau
bilang apa. Karna aku pintar, aku paham maksudnya (dalam tebakan aku).
“Universitas Indonesia?” tanya aku.
“Yaa”,
jawab kedua kakak itu.
Aku :
“How long you have been here?” (maafkan grammerku)
Salah
satu pemudi Korea menjawab, “3 weeks and tomorrow we will back”.
Aku:
“O ya?”
Mereka
ngangguk-ngangguk. Pas banget, untung aku gak melewatkan momen ini karna rasa
takutku. Harus berani untuk salah dan malu!! Kami pun mengucapkan salam
perpisahan. Kamsahamnida! Gomawo!
Mereka
membalas kami, terima kasih!| Makasih udah mau baca kisah aku dan mereka :) |
Rabu, 05 Februari 2014
Diundang Menjadi Pengundang
Aku ga taulah mau mulai dengan
nama sebenarnya atau samaran. Karna blog ini kan tentang kehidupanku yang aku
mau semuanya tau akan perjalanan hidupku ini. Tapi samaranlah yang mungkin
terbaik agar aku tidak dituntut pihak yang merasa namanya disebutkan dalam
kisahku kali ini.
Kamis, 30 Januari 2014.
Pukul : 12.45 WIB
Ini kali kedua
bagiku diajak seseorang yang kukenal untuk bergabung dalam sistem di perusahaan
yang dia tekuni. Sebelumnya, aku pernah diajak oleh senior yang bukan di
jurusanku. Dia menawarkan sebuah peluang bisnis yang didapatkan dari perusahaan
A untuk aku masuk dalamnya. Aku ga tau harus apa di saat itu. Aku dikelilingi
tiga orang lain yang baru dikenalkan seniorku itu dan membuatku jadi merasa bimbang. Apakah
peluang ini datangnya dari Tuhan? Karna sempat aku memohon kepada-Nya untuk diberikan pekerjaan tapi apa iya ini?
Aku harus punya modal untuk ikut. Bukan keahlian, tapi finansial. Darimana aku
bisa dapat? Modal ini bukan modal yang bisa dimiliki seorang mahasiswa. Tuhan,
benarkah dari-Mu? Sepanjang pertemuanku dengan mereka, aku bergumam terus. Iya atau tidak sama sekali.
Tiga hari kemudian, aku diajak ketemuan lagi di tempat yang sama yakni di trotoar dalam pusat kampusku. Kami duduk dan seorang melanjutkan lagi cerita tentang peluang itu. Seperti tak ada peluang pula bagiku untuk berkata tidak, aku tidak bisa gabung. Pembicaraannya sudah sangatlah jauh. Sampai kiat sukses untuk daapatkan modal cepat pun dibukakan. Aku pun tenggelam terlalu dalam. Tuhan, ini benar ga sih datang dari-Mu? Kenapa hatiku ga tenang?
Sampailah aku di lembaran baru.
Sms itu datang menyatakan padaku bahwa maukah aku mulai berbisnis di perusahaan
A. Dan aku menjawab kalau ini bukan saatnya.
Tuhan, ampunilah aku jika
ternyata aku menolak peluang yang Engkau berikan.
Selang beberapa hari…
Yah tanggal yang tertera di atas adalah tanggal pertemuanku dengan teman 9 tahunku. Dia ingin aku menemaninya ke komunitas B yang ternyata setelah sampainya aku disana, dia mengajakku untuk gabung dengan komunitasnya. Positif. Sungguh positif dengan apa yang dilakukan komunitas ini.
Aku menyimpulkan begitu karna bukan hanya dia yang menceritakan apa kegiatan yang dia lakukan bersama anggota lainnya. Tetapi, C dan D yang anggota komunitas B juga ikut mensugesti otakku untuk bergabung. Dan kamu kegiatannya apa?
Yah, tepat. Aku harus mengikuti
sistem peluang bisnis di perusahaan E. Perusahaan yang namanya tak familiar di
telingaku. Sama seperti perusahaan A. kali keduanya aku terjebak dalam lemah
yang tak kuketahui kedalamannya.
Sehari sebelum aku bertemu teman 9 tahunku, aku bermimpi dalam tidur siangku akan kehidupanku di masa depan tentang pekerjaan dan teman hidup. Kenapa aku menceritakan ini? Karna salah seorang dari mereka yakni D bilang padaku bahwa aku datang ke tempat mereka bukan kebetulan tapi takdir. Namun, aku merasa itu bukan takdir karna aku pun bukan dalam kondisi yang sedang memohon untuk dapat pekerjaan kepada-Nya saat ini.
D tak setuju dengan pernyataanku. Dia bilang aku tak berTuhan. Karna gak da yang kebetulan di dunia ini bila aku percaya Tuhan. Saat dengar kalimat itu, aku kaget. Jadi mikir. Yang berTuhannya aku?
D tampak bersikeras untuk
membuatku bergabung dengan melontarkan kalimat sukses berikut ini :
“Orang sukses mencari solusi, orang gagal mencari alasan.”
Pasti kalian setuju denganku akan
kalimat di atas tapi bukan itu saja’kan kalimat sukses?? Apa aku harus berpatok
pada itu agar aku sukses?? Berarti aku harus mengiyakan untuk bergabung agar
sukses??
Bahkan ada kalimat begini :
“Saat tua kita kaya itu biasa, saat muda kita kaya itu luar biasa.
Saat tua kita gak kaya-kaya, mudanya ngapain?”
Memang banyak pengusaha muda.
Tapi apa dengan terima uang saja dengan banyakan menggoyangkan kaki disebut
pengusaha tanpa ada yang dijualnya ke publik?? Maaf kalo ada yang tersinggung.
Tapi bagiku sukses itu ketika aku
bisa bahagia dengan keluargaku. Aku tidak mau jadi hamba uang. Aku suka bekerja
di kantor. Aku pun ga tau kenapa. Aku merasa semangatku ada di sana.
Jadi maafkan aku Tuhan jika aku
tak bisa peka akan suaraMu.
Maafkan aku, teman 9 tahunku bila
aku tak sesuai dengan apa yang kau harapkan.
LIFE IS CHOICE! J
Jumat, 30 Agustus 2013
SORE
Jumat, 30
Agustus 2013.
Pukul 14.45
Aku sedang
menonton drama Korea “Dream High” kesukaanku sambil mengedit-edit fotoku. Kudengar
suara kakakku dari luar. Langsung saja kubukakan pintu. Dia bersama dengan mamaku.
Beginilah jikalau wajahku tak menyapa mamaku dengan senyuman. Tapi kurasa, tiap
dia pulang aku jarang senyum. Dan kupikir itu tak masalah baginya.
Dia
menyuruhku angkati jemuran karna mau hujan. Sebelumnya memang sudah hujan jadi
kainnya sedikit basah. Tanpa menunggu, aku pun segera ke belakang buat ambil
jemuran itu. Tapi apa yang kudapatkan?? Aku dimaki-maki mamaku. Dia
membanting-banting tutup ember di depanku. Memang ini salahku yang meletakkan
mereka di ember bekas pakai ngepel. Aku lupa akan itu. Dia bersikap seperti
perfeksionis. Dia membedakan ember satu dengan ember yang lainnya. Sikapnya
kali ini seperti kesetanan. Benaran deh…
Ya
udah aku bisanya menggeram. Gimana enggak?? Kalau kulawan makin menjadi-jadi
dia. Kesalahan kecil selalu ia besar-besarkan. Di kalimat emosinya, dia bilang
begini percuma kau anak sarjana tapi
membedakan mana ember bekas ngepel sama ember khusus baju pun gak bisa kau
bedakan pantas IPmu dua komaaa terus!! Itu yang pertama. Kedua, aku paling ga bisa dengar kata malas padahal
aku ga da bilang malas loh. Tumben-tumbennya pun aku langsung kerjain yang dia
suruh tanpa bilang bentar mak, nanti mak,
atau tunggu mak. Ketiga, Korea teruuusss Korea
aja yang kau tonton pantas kau jadi bodoh. Dia bawa-bawa kesukaanku pada
Korea padahal itu yang memotivasi aku untuk S2 di sana.
Pokoknya
kalau kalian di posisi aku, kalian ga bakal tahan deh. Aku aja ada niat mau
minggat dari rumah tadi. Tapi sinetron kali rasaku. Jadinya kutahankan ajalah.
Palingan rusak psikisku. Hal yang paling ga kusuka yah ini. Beberapa menit
kemudian dengan rasa bersalah dia memanggilku lagi, Jo!! Dan begitu seterusnya, siap marah pasti baikan lagi seperti
sebuah pertemanan. Tapi sampai kapan, yah.
Jenuh jiwaku.
Jenuh jiwaku.
Lihat pula :
Kamis, 29 Agustus 2013
Selokan Belakang Rumahku
Rabu, 28 Agustus 2013.
Pukul 17.15 WIB
Pukul 17.15 WIB
Seperti biasanya aku, Josapat
Simangunsong selesai menonton drama Korea “A Gentleman Dignity” di Indosiar,
aku hanya bisa melakukan hal yang biasa pula kulakukan, yakni membodoh. Gak tau
mau ngapain. Tapi ini hanya di saat liburanku. Jika aku kuliah maka aku akan
sibuk dan mengerti akan apa yang mau kukerjakan. Dan tak sempat bagiku untuk
menonton drama yang digila-gilai remaja masa kini.
Aduh sakit
sekali jempolku akibat menyodok-nyodok saluran air yang tersumbat di kamar
mandi dengan rotan semalam. Sakitnya masih sangat terasa hingga hari ini. Aku
gak pernah berniat untuk membersihkan selokan belakang rumah hari ini. Akan
tetapi, ibuku datang memberiku sebuah alat kerokan buat selokan. Setelah itu,
dia kembali lagi kepada teman-temannya di kedai bahagianya.
Ya sudah
daripada gak da kerjaan, pikirku. Aku kerjakan deh tugas mulia ini. Lagian
akhir-akhir ini, kamar mandi kami bau bangkai karna dia tersumbat. Baru
mendekati selokan, eh dilihat tetangga sebelah, dia minta dikerok juga. Hmmm,
mau apa lagi yang dibilang ibu itu padaku ada benar juga. Kalau mengerok
selokan dari ujung ke ujung biar lancar aliran airnya agar tidak disitu-situ
saja tetapi mengalir hingga ke sungai. Jadi dari pojok kontrakan (3 blok dari
rumahku ke kanan) sampai ke ujungnya (4 blok dari rumahku ke kiri). Ya elah,
aku kan gak dibayar untuk hal semacam ini.
Kumulailah
mengerok. Eeh, baru dua tiga kali kuayunkan kerokannya, pinggangku rasanya mau
patah. Penyakit kakek-kakek, encok seperti kambuh. Maklumlah, ibuku yang
menyuruh tulang untuk membuat alat ini. Alat yang terbuat dari besi!! Besinya
aja dah sekilo beratnya (mungkiiinn) ditambah lagi selokan yang sudah tersumbat
5 tahun (lebaiku) yah, butuh tenaga yang ekstra. Mungkin 300.000 Joule (lebaiku
lagi)??
Pokoknya capek
banget dan sumpah demi apa selokan aku tuh bau, sangat sangat bau. Lebih dari
bau bangkai. Seperti bau kekalahan. Untungnya sih si ibu ini mau bantui aku.
Jadi yah gak begitu capeklah. Dikurang 100.000 Joule (lagi lebaiku lagi ) sama
dia. Keringat kami bercucuran seperti air mata. Kalau ibu itu bilang mau
beranak ngerokinnya. Huft…akhirnya pekerjaan kami selesai jam tengah 7. Jari
jemariku yang biasanya kugunakan untuk membalas pemberitahuan atau mentionnya teman-teman jadi lecet-lecet
karenanya.
| ini selokan yang aku maksud |
Catatan : Pelajaran yang kupetik adalah sebaiknya untuk mengerok selokan yang tak pernah dibersihkan sejak 5 tahun (lagi lebaiku lagi-lagi) itu tidak boleh hanya dengan satu atau dua alat kerokan, melainkan …..berpikir….. 6 saja deh. Itu sudah cukup. Nah, berarti harus ada 6 orang juga dong?? Pas dengan jumlah rumah kontrakan kami.
Maksudnya, berapa nilai
kewarganegaraan ketika kita SD?? 8?? 9?? Atau 10?? Tapi kenapa kisah warga
Kelurahan Bojong Kenyot sedang bekerja bakti untuk membersihkan lingkungan itu
sepertinya telah hilang?? Hanya teori saja. Aku tinggal di suatu kelurahan di
tengah kota yang tidak ada ajang bekerja bakti. Mana rasa gotong-royongmu??
Urusin hal yang kecil dulu deh
kalau mau jadi yang besar!!
Lihat pula :
Selasa, 13 Agustus 2013
Makalah PRASANGKA SOSIAL ANTARGOLONGAN DAN UPAYA UNTUK MENGURANGINYA sebagai tugas ETIKA
PRASANGKA SOSIAL
ANTARGOLONGAN DAN
UPAYA UNTUK MENGURANGINYA
UPAYA UNTUK MENGURANGINYA
JOSAPAT SIMANGUNSONG
120801043
S1 FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur
penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatNya
penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Adapun makalah “Prasangka Sosial Antargolongan dan Upaya Untuk Menguranginya” ini diselesaikan dengan tujuan sebagai pengganti Ujian Akhir
Semester dari mata kuliah Etika.
Penulis menyadari
bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata penulis
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam
penyelesaian makalah. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pihak yang
membutuhkan.
Medan, Juli 2013
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………... 2
1.3
Tujuan dan Manfaat Penulisan...................................................................... 3
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Prasangka Sosial..........................................................................4
2.2 Sumber Prasangka Sosial.............................................................................. 8
2.3 Ciri Pribadi Orang yang Berprasangka....................................................... 11
2.4
Upaya Untuk Mengurangi
Prasangka Sosial...............................................12
2.4.1 Sosialisasi............................................................................................ 12
2.4.2 Kontak Antarkelompok..................................................................... 13
2.4.3 Peran Pendidikan Tinggi................................................................... 15
2.4.4 Rekategorisasi..................................................................................... 16
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................... 19
3.2 Saran............................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Prasangka sosial terdiri atas attitude-attitude sosial
yang negatif terhadap golongan lain, dan mempengaruhi tingkah lakunya terhadap
golongan manusia lain tersebut. Attitude-attitude ini muncul karena dipelajari dan terbentuk pada manusia selama
perkembangannya bukan bawaan dari lahir. Prasangka sosial yang mula-mulanya hanya merupakan sikap-sikap dari perasaan
yang negatif itu, lambat-laun akan menyatakan bahwa dirinya berada dalam tindakan-tindakan
yang diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk golongan yang
diprasangkai itu.
Tanpa terdapat alasan-alasan yang objektif
pada pribadi orang yang dikenakan tindakan-tindakan diskriminatif ini,
prasangka (prejudice) bisa pula menjadi
salah satu aspek paling destruktif dari perilaku manusia. Tindakan-tindakan diskriminatif
diartikan sebagai tindakan-tindakan yang bercorak menghambat-hambat, merugikan
perkembangannya, bahkan mengancam kehidupan pribadi orang-orang yang hanya karena
mereka kebetulan termasuk golongan yang diprasangkai itu.
Prasangka berkaitan dengan persepsi orang
tentang seseorang atau kelompok lain, dan sikap serta perilakunya terhadap
mereka. Prasangka dapat menimbulkan efek yang mengerikan pada kelompok minoritas
yang berusaha menggunakan hak-haknya dan juga sering menimbulkan tindakan
kekerasan yang mengerikan.
Misalkan pada sebuah kasus di suatu
pengadilan, prasangka dapat menentukan siapa yang akan dimasukkan ke penjara
dan siapa yang akan dibebaskan. Di negara maju seperti Amerika Serikat (AS)
juga terjadi prasangka. Prasangka yang paling buruk menimpa kelompok warga
kulit hitam Afrika Amerika. Ketika orang-orang Afrika dibawa ke Amerika,
sebagai budak, mereka diperlakukan sebagai properti. Bahkan setelah muncul
emansipasi, kebanyakan warga Afrika Amerika masih dalam sistem segregasi formal
Jim Crow. Orang kulit hitam sering digantung sampai mati tanpa pengadilan jika
mereka “melanggar garis batas” pada masa itu.
Prasangka tidak hanya terjadi pada kelompok etnis dan rasial. Misalkan pada
kelompok gay dan lesbian, mereka juga kerap merasakan akibat dari prasangka oleh
kelompok heteroseksual sehingga mereka harus menyembunyikan orientasi
seksualnya untuk melindungi dirinya.
Tak terlewatkan bangsa Indonesia yakni
negara hukum yang sering juga terjadi prasangka sosial pada seseorang, kelompok
kecil maupun kelompok besar. Seperti pada kelompok penggemar motor atau yang
dikenal sebagai geng motor. Warga memiliki prasangka pada setiap geng motor
sebagai kewaspadaan mereka. Karena biasanya geng motor berlaku kriminal.
Prasangka harus dikurangi agar tidak
berlebihan sehingga bisa menjadikan sesorang sebagai makhluk yang antisosial.
Pada makalah ini akan dibahas pula bagaimana mengetahui seseorang yang
berprasangka dengan orang lain melalui sikap dan wajahnya. Kemudian bagaimana
mengurangi sikap prasangka sosial ini.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam makalah
ini, penulis akan merumuskan masalah yang ada pada prasangka sosial, yaitu
dimulai dari :
1.
Apakah prasangka itu?
2.
Apa sajakah sumber prasangka yang menyebabkan
terjadinya muncul sebuah motif?
3.
Bagaimana ciri pribadi seseorang yang berprasangka?
4.
Apa upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi
prasangka?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan
Makalah ini ditulis bertujuan untuk
mengetahui pengertian dari prasangka, untuk mengetahui sumber prasangka itu,
untuk mengenali seseorang yang berprasangka pada orang lain atau kelompok lain,
dan untuk mengetahui upaya mengurangi prasangka itu.
Penulis berharap makalah ini
bermanfaat bagi pembaca untuk mampu mengendalikan prasangka atau pikiran yang negatif
pada lingkungan di sekitarnya dengan mempelajari beberapa aspek rumusan masalah
yang akan dibahas.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Prasangka
Gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa yang bercorak
tindakan-tindakan diskriminatif terhadap segolongan manusia, tanpa terdapat
alasan-alasan yang objektif pada pribadi-pribadi orang itu satu per satu, yang
membenarkan tindakan-tindakan diskriminatif sedemikian itu, menunjukkan adanya
prasangka sosial pada seorang maupun kelompok.
Bahwasanya tindakan-tindakan diskriminatif yang
berdasarkan prasangka sosial merugikan masyarakat negara itu sendiri, karena sudah
jelas dengan adanya perkembangan potensi-potensi manusia masyarakat itu sendiri
jadi mudah diperhambat. Maka di beberapa negara-negara telah diusahakan untuk
mengubah dan menghilangkan prasangka-prasangka sosial yang picik dan yang
menghambat perkembangan masyarakat dengan wajar.
Prasangka merupakan komponen afektif atau komponen
evaluatif dari antagonisme kelompok. Prasangka adalah penilaian terhadap suatu
kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan
kelompok orang itu. Prasangka memiliki kualitas suka-tidak suka yang sama
dengan dimensi afektif atau evaluatif yang telah dibahas dalam kaitannya dengan
kesan dan sikap.
Tetapi prasangka memiliki kualitas tambahan berupa
penilaian pendahuluan (prejudgement).
Pengamat menilai orang lain berdasarkan kategori sosial atau kategori rasial
mereka dan tidak berdasarkan informasi atau fakta tentang diri mereka sebagai
individu. Karena itu, prasangka, sangat tidak masuk akal, dan bahkan mungkin
tidak logis atau tidak rasional.
Di samping itu, prasangka bisa menjadi evaluasi
negatif atas suatu kelompok atau seseorang berdasarkan pada keanggotaan orang
itu dalam suatu kelompok. Prasangka tidak hanya muncul pada sikap kelompok
lain, tetapi juga muncul karena adanya etnosentrisme.
Etnosentrisme adalah keyakinan bahwa in-group
lebih unggul ketimbang semua out-groups,
dan juga dapat memengaruhi evaluasi dari anggota in-group.
Sebelum dibahas semakin jauh, in-group adalah
kelompok sosial di mana individu mengidentifikasikan dirinya. Sifat-sifat in-group pada
umumnya didasarkan pada faktor simpati, dan selalu mempunyai perasaan dekat
dengan anggota-anggota kelompok.
Out-group adalah kelompok sosial yang
oleh individu diartikan sebagai lawan in-group-nya. Sifat out-group selalu
ditandai dengan sifat kelainan yang berwujud antagonisme dan antipati.
Manusia memiliki tendensi untuk mengevaluasi atribut-atribut
out-group secara lebih negatif
ketimbang atribut-atribut in-group.
Dalam sebuah eksperimen, mahasiswa kulit hitam dan putih mengevaluasi pelamar
kulit hitam ataupun kulit putih dan kemudian diminta menjelaskan mengapa
pelamar itu dipecat dari pekerjaan sebelumnya. Anggota kedua kelompok itu
memberikan evaluasi yang lebih positif terhadap pelamar yang berasal dari
sesama ras mereka ketimbang pelamar dari ras yang berbeda (Chatman & von
Hippel, 2001).
Kita cenderung memandang ini sebagai refleksi
prasangka terhadap kelompok lain. Tetapi, perbedaan kelompok ini tidak menunjukkan
peran dari prasangka. Kita hanya tahu bahwa kulit putih berbeda dari kulit
hitam. Untuk mengetahui peran prasangka secara lebih pasti, kita perlu
menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang berprasangka memberikan
penilaian yang lebih buruk kepada pelamar kerja dari out-group.
Efek prasangka, sebagaimana stereotip, yang merupakan
gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang
golongan lain yang bercorak negatif, juga bersifat destruktif.
Stereotip mengenai orang lain itu sudah terbentuk pada
orang yang berprasangka sebelum ia mempunyai kesempatan untuk bergaul
sewajarnya dengan orang-orang lain yang dikenakan prasangka itu. Biasanya
stereotip itu terbentuk padanya berdasarkan keterangan-keterangan yang kurang
lengkap dan subjektif.
Stereotip tidak hanya mempengaruhi perilaku kita,
tetapi juga perilaku korban stereotip ketika kita berinteraksi dengan mereka.
Dalam hal ini, stereotip bisa menjadi dugaan pemuas diri. Langkah lanjut dari
proses ini bahkan lebih merusak. Anggota kelompok korban mulai melakukan
sesuatu sesuai dengan stereotip itu, menampilkan karakteristik yang sesuai
dengan isi stereotip tersebut.
Bila kita beranggapan bahwa adik kita adalah orang
yang canggung dalam berinteraksi dengan orang lain, kita akan mengharapkan
bahwa dia akan selalu bersikap canggung. Dan yang cukup mengejutkan, hal ini
meningkatkan kemungkinan bahwa dia akan menampilkan perilaku yang meembenarkan
stereotip tersebut.
Bila diterapkan pada stereotip, rangkaian dugaan
pemuas diri melibatkan empat tahap, yakni :
1. Stereotip (harapan) tentang bagaimana orang lain akan
berperilaku,
2. Perubahan perilaku pada diri penganut stereotip,
3. Menimbulkan perubahan perilaku pada diri orang yang
menjadi sasaran, dan
4. Persepsi tentang perilaku orang yang menjadi sasaran
sebagai penyesuaian terhadap stereotip dan bukan sebagai respons terhadap
perilaku si penganut stereotip.
Tidak hanya itu, dalam situasi lain, korban juga menampilkan
perilaku yang membenarkan stereotip tersebut, bahkan terhadap orang yang sama
sekali tidak tahu tentang stereotip itu. Jadi, dalam lingkungan yang netral
pun, dimana orang tidak mempunyai stereotip, korban prasangka tetap cenderung
menampilkan perilaku yang membenarkan stereotip tersebut.
Mungkin, akibat yang paling merusak adalah bahwa orang
yang menjadi sasaran akan menjadi yakin bahwa stereotip itu benar-benar sesuai
dengan dirinya. Singkatnya, tidak hanya perilaku penganut stereotip yang
dipengaruhi oleh harapan ini, tetapi perilaku dan persepsi-diri korban juga
akan mencerminkan stereotip.
Sehingga terbesit pertanyaan untuk kita, apakah
stereotip dan prasangka itu berbeda? Tentu saja keduanya berbeda. Stereotip adalah kognitif dan prasangka adalah
afektif. Perbedaan itu memang membantu untuk memahami masing-masing dari kedua
pengertian itu, namun keduanya merupakan campuran dari elemen kognisi dan afeksi
dalam kenyataannya.
Misalnya tentang persepsi pengidap AIDS. Orang yang
berprasangka terhadap gay kemungkinan mengingat label kelompok (misalnya,
“gay”) dan ciri stereotipnya (misalnya, “tidak bermoral”), dan mereka memberi
asosiasi afek negatif terhadap label kelompok itu. Kita dapat membedakan ciri
stereotip dari prasangka, tetapi dalam kenyataannya dua hal itu muncul
bersamaan (Dovidio, Brigham, Johnson, & Gaertner, 1996).
Akibatnya, kita tidak berusaha untuk membedakan secara
tegas antara prasangka dan stereotip. Stereotip dan prasangka sosial itu dapat
pula berubah, yaitu dengan usaha-usaha intensif secara langsung atau karena
perubahan keadaan masyarakat pada umumnya, misalnya karena peperangan,
revolusi, dan lain-lainnya.
Akan tetapi, perbedaan stereotip dan prasangka mungkin penting pada satu aspek, yakni adalah mungkin
bagi orang yang tidak berprasangka untuk menerima stereotip kultural umum meski
mereka tahu bahwa stereotip itu belum tentu benar (Devine & Elliot, 1995). Kebanyakan
studi menunjukkan bahwa orang yang sangat berprasangka adalah orang yang paling
mungkin menerima stereotip konvensional (Gordijn, Koomen, & Stapel, 2011).
Tampaknya mungkin bahwa stereotip yang tersebar luas
akan dikenal oleh hampir semua orang, entah mereka setuju dengan stereotip itu
atau tidak. Tetapi, stereotip yang lebih halus dan kurang lazim mungkin
diterima terutama oleh orang-orang yang sangat berprasangka dan paling suka
mencari-cari kekurangan para anggota dari kelompok lain (out-group).
2.2 Sumber
Prasangka Sosial
Dalam usaha untuk
menghindarkan tindakan-tindakan diskriminatif yang berdasarkan prasangka sosial
itu, kiranya perlu sekali untuk sekadar mengetahui bagaimana terjadinya prasangka
sosial, dan apa sebab-sebabnya prasangka sosial itu dipertahankan orang yang
sudah berprasangka itu.
Seperti
yang sudah dibahas sebelumnya, attitude-attitude
itu tidak dibawa oleh manusia sejak ia dilahirkan, tetapi bermacam-macam attitude itu dipelajari dan terbentuk
pada manusia selama perkembangannya.
Anak-anak
kecil tidak mempunyai attitude-attitude,
tetapi ia memperolehnya pertama-tama dari orang tuanya dan keluarganya yang
merupakan kelompok primer (primary group)
baginya yang pertama-tama mendidiknya atau merupakan lingkungan sosial pertama
tempat anak itu berkembang sebagai makhluk sosial.
Demikian
pula halnya dengan prasangka sosial, yang tidak dibawa serta manusia sejak ia
dilahirkan, yang terbentuk selama perkembangannya, baik didikan atau dengan
cara identifikasi dengan orang-orang lain yang sudah berprasangka.
Dalam
bermacam-macam penelitian dan observasi-observasi tampak bahwa, misalnya, di
sekolah-sekolah internasional tidak terdapat sedikit pun prasangka sosial pada
anak-anak sekolah yang berasal dari bermacam-macam golongan ras dan budaya itu.
Mereka baru akan memperolehnya di dalam perkembangannya apabila mereka bergaul
erat dengan orang-orang yang telah mempunyai prasangka sosial.
Dan
hal ini berlangsung dengan sendirinya pada taraf tidak sadar melalui
proses-proses imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati, yang memegang
peranan utama di dalam interaksi sosial itu.
Bahkan
secara tidak sadar mereka lambat-laun mungkin memperoleh sikap-sikap tertentu
terhadap golongan-golongan tertentu, yang lama-kelamaan dapat pula melahirkan stereotip-stereotip. Dilihat dari
sudut psikologi perkembangan, terbentuknya prasangka sosial pada manusia itu
merupakan kelangsungan yang tidak berbeda dengan perkembangan attitude-attitude lainnya pada diri
manusia itu, kalau dan apabila anak-anak itu kebetulan bergaul erat dengan
orang-orang yang sudah berprasangka itu.
Terjadinya
prasangka sosial semacam ini dapat disebut pertumbuhan prasangka sosial dengan
tidak sadar dan yang berdasarkan kekurangan pengetahuan dan pengertian akan
fakta-fakta kehidupan yang sebenarnya dari golongan-golongan orang yang
dikenakan stereotip-stereotip itu, serta juga dapat berlangsung secara
terus-menerus sebagaimana digambarkan, sampai orang itu menjadi dewasa, dan
dengan demikian juga ikut memiliki sikap-sikap perasaan dan stereotip-stereotip
terhadap golongan-golongan tertentu, yang dapat digunakan oleh orang-orang yang
berkepentingan.
Berbicara
tentang kepentingan, ada faktor lainnya yang lebih mendasar sehubungan dengan
kepentingan dan yang dapat membentuk, mempertahankan serta memupuk prasangka
sosial dengan gigih yaitu faktor kepentingan perseorangan atau golongan
tertentu, yang akan memperoleh keuntungan atau rezekinya apabila mereka memupuk
prasangka sosial itu. Prasangka sosial dengan demikian digunakan untuk
mengeksploitasi golongan-goongan lainnya demi kemajuan perseorangan atau
golongan sendiri.
Hal
ini tampak pada zaman penjajahan ketika kaum penjajah menggunakan dan memupuk
prasangka- prasangka sosial antara golongan-golongan yang dijajah demi
keselamatan kelompoknya sendiri (devide
et impera). Contoh lainnya mengenai seorang Amerika yang tidak mempunyai
prasangka sosial terhadap orang Yahudi, tetapi yang menyatakan bahwa ia akan
menjadi antisemitis juga apabila pegawai atasannya mempunyai prasangka sosial
terhadap kaum Yahudi.
Selain
itu ada pula satu faktor yang dapat memupukkan adanya prasangka sosial seperti
yang dapat berkembang secara tidak sadar itu, yakni faktor ketidakinsafan akan
kerugian-kerugian masyarakat apabila prasangka itu dipupuk secara
terus-menerus, yang mudah terjelma ke dalam tindakan-tindakan diskriminatif.
Beberapa
kerugian itu, antara lain sebagai berikut : masyarakat sebagai keseluruhan
dapat dirugikan olehnya karena dengan demikian tidak semua potensi-potensinya
dapat dikembangkan demi meningkatkan perekonomiannya dengan sepenuh-penuhnya.
Tindakan diskriminatif terhadap golongan dapat menguntungkan golongan lain,
tetapi merugikan masyarakat sebagai keseluruhan.
Selain
itu tindakan diskriminatif menimbulkan konflik-konflik sosial yang memerlukan
usaha-usaha dan waktu tambahan bagi pemerintah untuk meredakannya. Usaha-usaha
dan waktu tersebut dapat dihemat dan dikerahkan bagi pekerjaan-pekerjaan yang
lebih produktif.
Prasangka
sosial terhadap golongan yang lain membuatnya mudah menimbulkan
halangan-halangan dalam pergaulan antargolongan dan kemudian dapat memecah
kerja sama yang wajar di antara golongan-golongan tersebut.
Pada
akhirnya prasangka sosial itu dapat menjadi outlet,
pelepasaan dari frustasi-frustasi yang dialami seseorang , lalu menjelma ke
dalam tindakan-tindakan agresif terhadap suatu golongan yang menjadi kambing
hitamnya, sehingga masyarakat mengalami pengacauan yang nyata.
Faktor
ketidakinsafan akan kerugian-kerugian masyarakat sendiri akibat prasangka
sosial itu, dapat pula menjadi sebab bahwa prasangka sosial itu dapat
berkembang terus-menerus. Apabila orang telah insaf akan kerugiannya dalam
memupuk prasangka sosial itu, orang akan berusaha menghilangkannya.
Dalam
hubungan ini terdapat pula serentetan kerugian pribadi yang tidak penulis
bicarakan pada tempat ini. Sekianlah beberapa penjelasan mengenai sumber,
terjadinya dan bertahannya prasangka sosial dalam bentuknya yang sadar maupun
yang tidak sadar.
2.3 Ciri Pribadi Orang yang Berprasangka
Perkembangan prasangka
sosial dapat disebabkan oleh faktor-faktor ekstern pribadi orang, tetapi
terdapat pula beberapa faktor intern dari pribadi orang yang mempermudah
terbentuknya prasangka sosial padanya, khususnya terhadap golongan minoritas.
Menurut
beberapa penyelidikan psikologi, terdapat beberapa ciri pribadi orang yang
mempermudah bertahannya prasangka sosial padanya, antara lain :
1. Pada orang-orang yang berciri-ciri toleransi,
2. Memupuk khayalan-khayalan yang agresif,
3. Kurang mengenal akan dirinya sendiri lalu berikatan
kepada orang-orang yang kuat atau mayoritas,
4. Kurang berdaya cipta seperti menjiplak norma dan
tingkah laku mayoritas,
5. Tidak merasa aman sehingga adanya sikap penolakan
terhadap orang-orang yang lemah atau terhadap minoritas serta menimbulkan sikap
sombong, dan lain-lain.
Ciri-ciri
pribadi orang yang berprasangka
tadi terbentuk karena adanya didikan dari orang tua yang menuntut ketaatan
mutlak tanpa penjelasan dan senantiasa bersikap otoriter.
2.4 Upaya Untuk Mengurangi
Prasangka Sosial
Usaha-usaha mengurangi prasangka sosial
antargolongan itu kiranya jelas harus dimulai dengan berusaha mengurangi
kompetisi antarkelompok dengan meredistribusikan lapangan kerja, pendapatan,
kekayaan, perumahan, dan perawatan kesehatan.
Prasangka mungkin menurun jika
kebutuhan kelompok-kelompok yang berkompetisi itu bisa dipenuhi dengan lebih
baik, tetapi prasangka mungkin tidak bisa hilang karena ada konflik kepentingan
antarkelompok yang pasti tidak terelakkan. Usaha untuk membantu satu kelompok
sering kali akan mengorbankan kelompok lain dan mungkin menambah permusuhan.
Tidak akan pernah ada cukup sumber daya untuk
memuaskan semua orang. Jadi, psikolog beralih ke teknik lainnya.
2.4.1 Sosialisasi
Prasangka tampaknya dipelajari sejak masa kecil,
dan prasangka cenderung stabil selama bertahun-tahun (Sears & Levy, 2003).
Jadi, pendekatan lain untuk mereduksi prasangka adalah mengubah sosialisasi
awal, antara lain dimulai dari sosialisasi dengan keluarga, teman di lingkungan
menimba ilmu seperti sekolah atau kampus, dan lingkungan masyarakat sekitar.
Dahulu dianggap bahwa sosialisasi secara
alamiah akan membebaskan, jadi prasangka akan berkurang dengan sendirinya.
Setiap generasi baru memang semakin menjauhi rasisme gaya lama, yaitu keyakinan
tentang keunggulan kulit putih, segregasi, dan diskriminasi formal. Perubahan
ini disebabkan sebagian karena genersi muda tumbuh tanpa prasangka dan banyak
orang tua yang punya prasangka yang sudah meninggal (Firebaugh & Davis,
1988).
Sebagian dari penyebab perubahan
sosialisasi adalah sasaran dari prasangka itu juga berubah dan tidak lagi cocok
dengan stereotip lama. Misalnya, kesetaraan gender semakin meningkat selama
satu dekade terakhir ini sehingga wanita bisa menduduki posisi yang dahulu
hanya untuk pria. Akibatnya, orang makin tidak begitu memedulikan perbedaan
antara pria dan wanita dalam bidang-bidang yang dahulu hanya dianggap milik
pria, seperti di dunia “persaingan” atau “dunia pemecahan masalah” (Diekman
& Eagly, 2000). Namun, reduksi spontan tidak berarti melenyapkan prasangka.
2.4.2 Kontak Antarkelompok
Pendekatan lain terhadap pengurangan prasangka
adalah kontak antarkelompok secara langsung. Ada keyakinan bahwa kontak dapat
menghilangkan stereotip, dan kedekatan serta interaksi biasanya dapat
meningkatkan rasa suka. Beberapa penelitian yang lain juga menunjukkan bahwa
peningkatan kontak ras-ras dapat mengurangi antagonisme, prasangka, dan
stereotip.
Jika ketidaktahuan, lantaran kurangnya
kontak ras-ras, menimbulkan stereotip yang salah, maka kontak yang lebih banyak
semestinya akan menambah ketepatan persepsi dan mengurangi prasangka.
Beberapa studi klasik tentang efek
desegregasi menemukan bahwa kontak bisa mereduksi prasangka. Salah satu problem dalam penggunaan kontak sebagai
solusi mengatasi stereotip dan prasangka adalah kebanyakan individu yang
berprasangka tidak mau menjalin kontak, dan karenanya solusi ini sulit
dilakukan.
Kurangnya pengalaman positif dengan
anggota out-group dapat menimbulkan
ekspetasi negatif tentang seperti apa interaksi di masa depan, dan karenanya
menimbulkan “kecemasan antar-rasial” (Plant & Devine, 2003). Hal itu pada
gilirannya dapat menyebabkan seseorang menghindari kontak.
Tetapi bagaimana jika kontak antar ras-ras
benar-benar terjadi? Kebanyakan pakar menyimpulkan bahwa yang menjadi faktor
krusial di sini adalah tipe kontak antar ras-ras spesifik, bukan kontak itu
sendiri. Oleh sebab itu, sebagian besar pakar menarik kesimpulan bahwa jenis
kontak tertentu merupakan faktor yang penting.
Teori yang paling banyak digunakan oleh
pakar psikologi sosial adalah teori kontak dari Allport (1954). Teori kontak
mengidentifikasikan empat kondisi spesifik yang mungkin membantu kontak
antarkelompok untuk mengurangi prasangka :
1. Interdepensi kooperatif dengan tujuan umum
adalah elemen utama dalam teori kontak.
Ini terdiri dari dua elemen : berinteraksi bersama dan berbagi hasil. Anggota
dua kelompok perlu bekerjasama dan memiliki tujuan yang sama yang pencapaiannya
lebih tergantung pada upaya bersama ketimbang pada persaingan memperebutkan
sumber daya langka.
2. Kontak juga harus terjadi di individu
dengan status yang sederajat. Jika ketidakseimbangan status masih ada,
stereotip tidak dapat dengan mudah dienyahkan. Biasanya, kontak antar ras
terjadi saat minoritas masuk ke lapangan kerja, sebagai mahasiswa atau magang,
atau dalam pekerjaan yang tidak diinginkan. Kontak jenis ini hanya akan
mengawetkan stereotip lama.
3. Kontak harus memiliki potensi pengenalan.
Frekuensinya harus cukup, durasinya cukup, dan kedekatannya juga cukup, agar
terjalin persahabatan. Kontak singkat dan jarang-jarang sulit diharapkan dapat
membantu mengurangi stereotip. Misalnya, kelompok heteroseksual yang melakukan
kontak sering, keterbukaan, dan kedekatan dengan kelompok gay dan lesbian adalah
syarat utama agar prasangka terhadap kaum itu dapat berkurang.
4. Harus ada dukungan institusional bagi
kontak tersebut. Orang-orang yang memegang otoritas harus mendukung kontak itu
dengaan tegas.
Seberapa lazimkah situasi kontak
antarakelompok yang optimal? Secara teori, menjadi rekan satu tim dalam tim
sepakbola atau sesama napi yang saling membantu melarikan diri (kerja sama
melarikan diri) atau membentuk tim inter-rasial untuk memecahkan soal statistik
di kelas akan membantu mengurangi prasangka. Hanya dengan menempatkan siswa
dalam kelompok yang berbeda dalam suatu kelas mungkin kurang berhasil.
Kontak antar ras yang bermanfaat akan
terjadi lebih sering saat ini ketimbang di masa lalu, seperti dalam situasi
pekerjaan. Tetapi di area kehidupan lainnya, kelompok etnis dan rasial yang
berbeda sering kali jarang saling menjalin kontak. Karenanya, kontak
antarkelompok bukan solusi mujarab.
Selain itu, penelitian dengan kelompok
kecil telah menyatakan bahwa interaksi antargolongan yang cukup intensif mampu
sekali melenyapkan stereotip dan prasangka sosial antargolongan itu.
Meskipun merupakan faktor yang paling
penting, kontak antarkelompok bukan satu-satunya faktor yang dapat mengurangi
prasangka. Keberhasilan usaha kerja sama juga penting. Bila orang saling
bahu-membahu dalam pertempuran, pertandingan, atau tugas kelas, dan hasilnya
buruk, mereka akan saling membenci dan semakin bermusuhan. Sejauh mana makna
penting keberhasilan dalam proses ini, belum jelas.
Tetapi jelas bahwa keberhasilan merupakan
unsur yang penting. Dan norma yang berlaku di masyarakat sekitar sangat
penting. Meskipun terjadi pengalaman antarras yang berhasil dalam suatu
lingkungan yang terbatas, orang akan tetap kembali ke kehidupan normalnya. Bila
kemudian mereka dikitari oleh orang-orang berprasangka, dengan cepat mereka
akan kembali berprasangka. Inilah salah satu kesulitan yang dihadapi dalam
usaha mencegah timbulnya prasangka.
2.4.3 Peran Pendidikan Tinggi
Pendidikan selalu menjadi salah satu harapan besar
bagi orang yang menginginkan adanya toleransi rasial yang lebih besar. Bila
stereotip dan prasangka didasarkan pada ketidakakuratan dan penyimpangan,
pengungkapan fakta akan dapat membantu. Dan tampaknya pendidikan bisa membantu
setidak-tidaknya pada tingkat pendidikan tinggi.
Orang yang pernah duduk di perguruan
tinggi biasanya memiliki prasangka yang lebih sedikit dibandingkan orang yang
tidak pernah. Tetapi alasan tepatnya belum jelas. Toleransi mereka yang lebih
besar dikaitkan dengan tingkat pendidikan mereka, bukan dengan aspek-aspek lain
dari status yang lebih tinggi.
Faktor penting yang menentukan pengaruh
pendidikan tinggi adalah adanya norma kelompok teman sebaya yang baru dan
perubahan sikap dari lingkungan itu pula. Mahasiswa yang menghabiskan sebagian
besar waktunya di rumah orangtuanya dan di kelilingi oleh teman masa
kanak-kanaknya akan dihadapkan pada lingkungan yang terdiri dari berbagai macam
orang dengan berbagai macam keyakinan.
Tidak mengherankan, keadaan ini
berpengaruh besar bagi mereka. Mereka mengubah sejumlah sikap yang telah mereka
anut sejak masa kanak-kanak, dan menilai kembali siakap yang lain berdasarkan
informasi yang baru.
Pada umumnya, sebagian besar sistem
keyakinan mereka mengalami pengaturan kembali. Dan dalam hal pendidikan
hendaknya dihindarkan pengajaran-pengajaran yang dapat menimbulkan
prasangka-prasangka sosial. Terutama pengajaran yang memberi pengertian dan
kesadaran mengenai sebab-sebab terjadinya, dipertahankannya, dan mengenai
kerugian prasangka sosial bagi masyarakat sebagai keseluruhan dan bagi
anggota-angotanya. Pendidikan bisa membantu mengurangi prasangka, tetapi
pengaruhnya tidak konsisten, tidak dramatis, dan tidak cepat.
2.4.4 Rekategorisasi
Pendekatan utama lainnya difokuskan kepada basis
kognitif dari stereotip. Bahkan ketika ada kontak antara anggota in-goup dan out-group dan anggota out-group
ternyata tidak cocok dengan stereotip, tendensi ke arah pemrosesan berbasis
kategori masih kuat dan stereotip juga masih kuat.
Salah satu cara untuk mengatasi stereotip
dan mengurangi prasangka adalah merekategorisasikan anggota in-group dan out-group menjadi anggota satu kelompok yang lebih besar dan
inklusif.
Ketika pemain sepakbola dari dua tim berdoa
bersama di lapangan setelah usai pertandingan yang seru, itu sama saja berarti
mereka membentuk kelompok superordinat yakni kelompok penganut Kristen yang
taat yang tidak membeda-bedakan kelompok tim. Pembentukan kelompok superordinat
akan bergantung pada variabel situasi yang menonjol mereduksi kemenonjolan
keanggotaan kelompok. Penciptaan kelompok superordinat mungkin bisa membantu
kita membuang stereotip lama.
Rekategorisasi juga dapat mereduksi
prasangka dengan menonjolkan kategori silang. Jika beberapa anggota dari gereja
kita bermain bersama dalam satu tim sepakbola dari anggota gereja lain, maka
perbedaan sosial akan berkurang dan keduanya tidak condong pada favoritisme in-group.
Beberepa riset menunjukkan ada banyak
keinginan untuk membentuk identitas superordinat, setidaknya dalam term harmoni
antarkelompok. Misalnya, di AS, anggota kelompok minoritas etnis yang
mengidentifikasi dengan kultur superordinat cenderung menilai sudah ada
keadilan dalam term prosedur. Tetapi, mereka yang mengidentifikasi terutama
pada kelompok etnisnya sendiri kemungkinan besar melihat kesenjangan dalam
perebutan sumber daya.
Banyak negara modern berusaha mengakomodsi
berbagai macam kelompok. Pada saat yang sama, banyak negara yang melakukan
penyetaraan hak untuk semua kelompok. Usaha seperti ini belum pernah terjadi
sebelumnya. Selama berabad-abad sejarah manusia, baru kali ada kesetaraan
semacam ini. Memang benar bahwa prasangka belumlah lenyap sama sekali. Namun,
kesulitan praktis untuk mengurangi prasangka tidak boleh mencegah kita untuk
berjuang mengatasi prasangka ini, karena ada alasan moral dan legal.
Mengurangi prasangka saat ini mungkin
lebih penting ketimbang di masa lalu. Tidak ada pendekatan tunggal yang bisa
memecahkan masalah ini. Antagonisme kelompok tampaknya masih merupakan aspek
fundamental dari kondisi manusia. Namun di negara-negara demokrasi, perlu untuk
diakui adanya harmoni dan toleransi kelompok yang cukup besar sehingga umat
manusia bisa hidup berdampingan secara sehat.
Khususnya bagi bangsa kita ini, yang sejak
kemerdekaannya telah mengalami pahitnya beberapa pemberontakan yang sebagian
besar turut disebabkan oleh, bahkan mungkin satu-satunya penyebabnya adanya
prasangka sosial karena masih terdapat akar-akar prasangka sosial antar
golongan akibat zaman kolonial.
Dan bangsa kita akan menghadapi masa depan
yang besar apabila seluruh potensi masyarakat dapat berkembang tanpa prasangka
sosial antargolongan, kiranya patut lebih berkenalan dengan gejala-gejala
prasangka sosial serta sebab-sebabnya.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Prasangka merupakan komponen afektif atau komponen
evaluatif dari antagonisme kelompok. Prasangka adalah penilaian terhadap suatu
kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan
kelompok orang itu. Prasangka memiliki kualitas suka-tidak suka yang sama
dengan dimensi afektif atau evaluatif yang telah dibahas dalam kaitannya dengan
kesan dan sikap.
Sumber
prasangka bukan merupakan attitude
karena attitude-attitude itu tidak
dibawa oleh manusia sejak ia dilahirkan, tetapi bermacam-macam attitude itu dipelajari dan terbentuk
pada manusia selama perkembangannya seperti adanya kepentingan perseorangan
atau golongan tertentu, yang akan memperoleh keuntungan atau rezekinya apabila
mereka memupuk prasangka sosial itu, adanya tindakan diskriminatif, adanya
ketidakinsafan akan kerugian-kerugian masyarakat yang mudah terjelma ke dalam
tindakan-tindakan diskriminatif.
Ciri
pribadi orang yang mempermudah bertahannya prasangka sosial padanya, antara
lain pada orang-orang yang berciri-ciri toleransi, memupuk khayalan-khayalan
yang agresif, kurang mengenal akan dirinya sendiri, kurang berdaya cipta, tidak
merasa aman, dan lain-lain.
Upaya untuk mengurangi prasangka sosial
adalah dengan melakukan sosialisasi, kontak antarkelompok, berpendidikan tinggi, dan rekategorisasi.
3.2 Saran
Sebaiknya usaha
mengurangi prasangka sosial ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
khususnya kepada golongan atau kelompok. Dan bisa mengetahui lebih spesifik
lagi tentang penyebab terjadinya prasangka sosial serta mampu mengembangkan
usaha mengurangi prasangka sosial saat ini.
Selain itu penulis juga menyarankan
agar pembaca mendalami pengertian kelompok in-group
dan out-group yang digunakan sebagai
sampel dari makalah ini dengan sebaik mungkin yang dapat mempermudah memahami
prasangka sosial antargolongan serta dijamin menjadi keuntungan tersendiri bagi
pembaca.
Untuk
penyempurnaan pembuatan makalah kedepannya, saya juga mengharapkan adanya saran
dari semua pihak baik dosen maupun
seluruh mahasiswa yang membaca makalah “Prasangka Sosial Antargolongan dan
Upaya Untuk Menguranginya” ini terhadap kekurangan yang terdapat pada makalah
ini.
DAFTAR PUSTAKA
Gerungan, W.A. 1986. Psikologi Sosial.
Cetakan kesembilan. Bandung : PT. Eresco.
Sears, D.O.dkk. 1985. Psikologi Sosial. Jilid kedua. Edisi
kelima. Jakarta : Erlangga.
Taylor, S.E.dkk. 2009. Psikologi Sosial. Edisi keduabelas. Jakarta
: Erlangga.
kk.mercubuana.ac.id/files/61017-5-445630179417.doc
pukul 09.00
WIB, 08 Juli 2013
Lihat pula :
https://plus.google.com/?partnerid=ogpy0
http://www.youtube.com/results?nfpr=1&search_query=josapat+simangunsong
http://www.youtube.com/results?nfpr=1&search_query=josapat+simangunsong
Langganan:
Postingan (Atom)

