Kamis, 29 Agustus 2013

Selokan Belakang Rumahku


Rabu, 28 Agustus 2013.
Pukul 17.15 WIB

Seperti biasanya aku, Josapat Simangunsong selesai menonton drama Korea “A Gentleman Dignity” di Indosiar, aku hanya bisa melakukan hal yang biasa pula kulakukan, yakni membodoh. Gak tau mau ngapain. Tapi ini hanya di saat liburanku. Jika aku kuliah maka aku akan sibuk dan mengerti akan apa yang mau kukerjakan. Dan tak sempat bagiku untuk menonton drama yang digila-gilai remaja masa kini.

Aduh sakit sekali jempolku akibat menyodok-nyodok saluran air yang tersumbat di kamar mandi dengan rotan semalam. Sakitnya masih sangat terasa hingga hari ini. Aku gak pernah berniat untuk membersihkan selokan belakang rumah hari ini. Akan tetapi, ibuku datang memberiku sebuah alat kerokan buat selokan. Setelah itu, dia kembali lagi kepada teman-temannya di kedai bahagianya.

Ya sudah daripada gak da kerjaan, pikirku. Aku kerjakan deh tugas mulia ini. Lagian akhir-akhir ini, kamar mandi kami bau bangkai karna dia tersumbat. Baru mendekati selokan, eh dilihat tetangga sebelah, dia minta dikerok juga. Hmmm, mau apa lagi yang dibilang ibu itu padaku ada benar juga. Kalau mengerok selokan dari ujung ke ujung biar lancar aliran airnya agar tidak disitu-situ saja tetapi mengalir hingga ke sungai. Jadi dari pojok kontrakan (3 blok dari rumahku ke kanan) sampai ke ujungnya (4 blok dari rumahku ke kiri). Ya elah, aku kan gak dibayar untuk hal semacam ini.

Kumulailah mengerok. Eeh, baru dua tiga kali kuayunkan kerokannya, pinggangku rasanya mau patah. Penyakit kakek-kakek, encok seperti kambuh. Maklumlah, ibuku yang menyuruh tulang untuk membuat alat ini. Alat yang terbuat dari besi!! Besinya aja dah sekilo beratnya (mungkiiinn) ditambah lagi selokan yang sudah tersumbat 5 tahun (lebaiku) yah, butuh tenaga yang ekstra. Mungkin 300.000 Joule (lebaiku lagi)??

Pokoknya capek banget dan sumpah demi apa selokan aku tuh bau, sangat sangat bau. Lebih dari bau bangkai. Seperti bau kekalahan. Untungnya sih si ibu ini mau bantui aku. Jadi yah gak begitu capeklah. Dikurang 100.000 Joule (lagi lebaiku lagi ) sama dia. Keringat kami bercucuran seperti air mata. Kalau ibu itu bilang mau beranak ngerokinnya. Huft…akhirnya pekerjaan kami selesai jam tengah 7. Jari jemariku yang biasanya kugunakan untuk membalas pemberitahuan atau mentionnya teman-teman jadi lecet-lecet karenanya.

ini selokan yang aku maksud

Catatan : Pelajaran yang kupetik adalah sebaiknya untuk mengerok selokan yang tak pernah dibersihkan sejak 5 tahun (lagi lebaiku lagi-lagi) itu tidak boleh hanya dengan satu atau dua alat kerokan, melainkan …..berpikir….. 6 saja deh. Itu sudah cukup. Nah, berarti harus ada 6 orang juga dong?? Pas dengan jumlah rumah kontrakan kami.

Maksudnya, berapa nilai kewarganegaraan ketika kita SD?? 8?? 9?? Atau 10?? Tapi kenapa kisah warga Kelurahan Bojong Kenyot sedang bekerja bakti untuk membersihkan lingkungan itu sepertinya telah hilang?? Hanya teori saja. Aku tinggal di suatu kelurahan di tengah kota yang tidak ada ajang bekerja bakti. Mana rasa gotong-royongmu??

Urusin hal yang kecil dulu deh kalau mau jadi yang besar!! 

Lihat pula :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar